kalpostonline.com

Edukatif & Berintegritas

Polemik Pemilihan Rektor Berujung Penutupan Kampus Unmul, Ini Reaksi Rektor Terpilih

Rudianto: Ini jadi viral nasional, dan kita malu sebenarnya dengan kondisi ini

Prof. Dr. Rudianto Amirta, S.Hut saat menanggapi polemik via Zoom

SAMARINDA, KALPOSTONLINE.COM | Polemik yang terjadi akibat kekecewaan segelintir pihak pasca Pemilihan Rektor Universitas Mulawarman 2026 yang menyebabkan ditutupnya akses masuk kampus oleh sekelompok orang Kamis (1/10/2026). Penutupan itu menuai sorotan dari berbagai pihak, baik eksternal maupun internal, bahkan Rektor terpilih pun memberikan reaksi.

Rektor Unmul Terpilih 2026-2031, Prof Rudianto Amirta menanggapi polemik yang terjadi 2 hari belakangan ini. Ia menyebut bahwa dirinya menyanyangkan eskalasi tensi yang terjadi di lingkungan akademik Unmul.

“Terkait dengan apa sikap saya terhadap polemik yang ada. Tentu saja saya menyayangkan karena pada prinsipnya kita kan satu keluarga besar nih. Saya pun dalam hal ini setelah terpilih akan berusaha menjadi payung buat semuanya. Bukan hanya pada kelompok yang memberikan dukungan ke saya, namun tentu pada ke semua. Bagian elemen dari Universitas Mawarman.” Ucap Prof Rudianto Amirta, Rektor Terpilih 2026-2031 Melalui Zoom Meeting. Jum’at, (2/10/2026) dilansir dari Kaltim Today.

Ia menjelaskan bahwa dirinya telah berjabat tangan dengan Prof. Abdunnur dan menganggap rivalitas telah berakhir seiring dengan selesainya pemilihan rektor.

“Saya berpikir bahwa rivalitasnya sudah berakhir. Pada saat pemilihan berakhir pun saya sudah mendatangi Pak Rektor, kami sudah bersalaman, yang menyatakan bahwa kita sudah selesaikan kompetisinya, dan memang itu harus kita lakukan dalam konteks memilih pemimpinan yang harus memimpin umum di masa mendatang.” jelasnya.

Lebih lanjut, Rudianto menyoroti beberapa poin yang sebelumnya disampaikan oleh Pihak Forum mengenai suara menteri 35% yang dinilai berpotensi mis-leading.

“Hanya saja barangkali saya juga ingin meng-highlight beberapa informasi, bahwa seolah-olah Menteri itu datang langsung dengan 35% suara itu dengan lobby saja. Enggak. Jadi itu, kami itu kelima calon di awal itu melalui beberapa tahapan, baik pendilai portfolio, kemudian track record, dan setelah melalui lulus litsus, melalui BIN, kami semua kan akan ditemui melalui tahapan itu pemeriksaan background kegiatan, dan yang lain, wawancara oleh tim BIN, dan yang lain, baru setelah tiga besar kami harus melalui tahapan wawancara dengan kementerian. Dengan paham menteri langsung terkait dengan penyampaian visi misi gitu kan. Komitmen-komitmen kan gitu kan. Rencana ke depan dan yang lain. Jadi tidak benar juga kalau kemudian 35 suara itu murni, Misalnya “karena lobby”. terangnya.

Menurutnya, tahapan penilaian yang telah dilalui para calon seharusnya dijelaskan rinci oleh pihak panitia pemilihan rektor kepada publik.

“Ada tahapan penilaian itu yang tidak diungkap dan tidak disampaikan. Mungkin itu bisa didetailing kepada panitia yang harusnya menyampaikan dengan detail tentang permasalahan ini.” sambungnya.

‘Yang kedua.Terkait dengan hal ini juga ya, tentang poin yang pertanyaan nomor dua ini, hal kedua yang saya jelaskan adalah bahwa kelima-lima calon pada saat kita mendaftarkan sudah tahu bahwa, kita akan diberlakukan, kepada kami berlima akan diberlakukan peraturan menteri tahun 2010 itu. Jadi kita tidak pernah kemudian mengugat itu, kita semua sepakat karena sampai hari ini keseluruhan perguruan tinggi juga menggunakan itu sebagai landasan dan dasar dalam melakukan pemilihan.”

Rudianto menyebut bahwa aturan ini telah berlaku semenjak tahun 2010, dan setiap calon juga memahami bahwa aturan tersebut akan tetap digunakan.

“Jadi bukan hanya tahun lalu dan tahun ini, tapi sejak 2010 itu berarti kan sudah 16 Tahun. Sudah 4 kepemimpinan yang terlewatkan, 4 siklus kepemimpinan yang terlewatkan dalam proses pemilihan-pemilihan di urmul sendiri. Jadi itu bukan hal baru yang layak untuk digugat. Nah, kalau mau digugat sekarang, silakan lakukan proses gugatan itu ke Mahkamah Konstitusi ya, selaku yang berwenang melakukan hal itu.Bukan hanya karena hal ini, tapi harusnya lebih awal ataupun sekarang. Memang ke depan kita tidak inginkan itu, maka kita gugat sekarang dengan landasan-landasan kuat, kemudian dokumen pendukung yang kuat, dan pertimbangan-pertimbangan yang kuat untuk itu,” jelasnya lagi

Soal Penutupan Kampus oleh Pihak Tertentu

Ketika ditanya mengenai penutupan Kampus Universitas Mulawarman yang sempat terjadi pada hari Kamis (2/10/2026). Rudianto melihat hal ini sebagai perlakuan yang justru memalukan bagi pihak Universitas Mulawarman, apalagi membawa unsur kedaerahan yang tidak sesuai dengan prinsip Unmul yang selalu terbuka untuk siapa saja.

Aksi penutupan Kampus Universitas Mulawarman. Kamis, (1/10/2026). Foto: Istimewa

Baca juga: Protes Pemilihan Rektor, Kampus Universitas Mulawarman Ditutup Sekelompok Orang

“Saya pikir kalau kita bertanya wajar dan tidak wajar, pasti kita katakan tidak wajar. Ini jujur saja, ini jadi viral nasional, dan kita malu sebenarnya dengan kondisi ini, karena tidak patut sebenarnya proses kompetisi 4 tahunan ini kemudian bermuara kepada intervensi pihak luar. Dalam hal ini, ormas dan lain-lain. Apalagi kemudian isu yang dibawa adalah isu kedaerahan, karena kampus itu kan harus terbuka buat semua orang. Kita semua yang ada di sini pasti lulus dari berbagai kampus yang di dalamnya tidak melakukan eksklusivisme, kan? Banyak satu suku yang boleh hadir. Tapi whatever lah itu saya nggak akan komentarin karena memang saya tidak ingin mengomentari satu secara spesifik, gitu ya.” Ungkapnya

Ia menegaskan bahwasanya baik Unmul maupun perguruan tinggi negeri lainnya mengadopsi aturan yang sama atas arahan dan instruksi kementerian terkait tanpa ada spot eksklusif.

“Intinya adalah bahwa saya ingin mendudukan masalahnya begini. Semua kampus PTN mengadopsi satu regulasi yang sama. Gak ada kekhususan misalnya di Unmul, kemudian diberlakukan satu kekhususan, kan? Kan gak ada, kan? Kita bagian dari otoritas nasional yang mengatur kita itu. Bentuk 35% adalah bentuk kepatuhan, kan? Bentuk kontrol dan bentuk cascading kebijakan kementerian, kan? Terhadap perguruan tinggi yang memang mendapatkan arahan, mendapatkan pembiayaan, mendapatkan menerapkan kebijakan nasional yang ada.” terangnya.

Rudianto menambahkan, jangan sampai hal ini mencederai tujuan Unmul sebagai kampus sentral penopang Ibukota di Kalimantan.

“Jadi saya pikir dalam konteks ini, saya tidak merasakan bahwa itu sesuatu yang wajar. Itu tidak wajar. Kan gitu ya, apalagi kampus sebesar Unmul, diharapkan bisa menjadi penopang ibu kota negara, kan gitu ya, menjadi sentral dan pusat pengembangan di Kalimantan, kan. Dan juga global, yang kemudian dalam satu konsep menjadi perguruan tinggi internasional, harusnya kita pada garis itu, pada spirit itu, gitu.” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan kalau dirinya akan kembali berfokus mengharmoniskan keadaan kampus baik dengan pihak terkait maupun dengan pihak eksternal untuk mengurangi ketegangan yang ada.

“Menurut saya yang paling mendasar adalah 30 hari pada real kondisi yang kita hadapi saat ini nih, bahwa ada intervensi yang pasti mengganggu kan gitu ya. Maka kemudian masih terpecahnya kubu-kubu yang ada, yang harus saya modifikasi nih. Yang paling penting adalah membangun kebersamaan itu. Saya harus memodifikasi target saya pada harmonisasi di awal. Ini merubah petanya. Dari yang ideal di tidak ideal. Karena saya tidak pernah membayangkan bahwa di seratus hari saya, saya masih menghadapi di awal seperti ini. Karena saya pikir begitu kemarin kita selesai, sama seperti yang terjadi di ULM, ini percayaan sudah merilis. Selamat kepada rektor barunya. Kita kan enggak nih. Malah kampus kita di blok dan lain-lain kan gitu ya. Nah ini yang harusnya tidak terjadi, sehingga memang saya harus akuin ada fragmentasi di kami, dan saya harapkan bahwa dalam satu bulan ke depan, ini kita bisa selesaikan.” lanjutnya.

Ia ingin permasalahan ini dapat diselesaikan sebelum dirinya dilantik, di mana ke depannya ia akan berkomunikasi kembali dengan rektor sebelumnya, Prof. Abdunnur.

“Jadi sebelum saya dilantik, itu harusnya bisa diselesaikan. Kan gitu ya? Karena kan saya dilantik akhir Oktober nanti tuh, maka itu bisa diselesaikan. Dan saya lagi mengupayakan itu, lagi berkomunikasi secara informal, dan membangun komunikasi dengan petahana gitu ya, dengan Prof. Abdunnur, membuka komunikasi lagi saya upayakan. agar kita bisa secara dewasa menyelesaikan tahapan transisi ini.” Tandasnya menutup.

(K)

Admin

Silakan Dibagikan

Tinggalkan Balasan