kalpostonline.com

Edukatif & Berintegritas

Protes Pemilihan Rektor, Kampus Universitas Mulawarman Ditutup Sekelompok Orang

Gerbang masuk digembok dan dihalangi

Aksi penutupan Kampus Universitas Mulawarman. Kamis, (1/10/2026). Foto: Istimewa

SAMARINDA, KALPOSTONLINE.COM | Proses demokrasi Estafet kepemimpinan Universitas Mulawarman (Unmul) beralih ke Prof. Dr. Rudianto Amirta, S.Hut., M.P. yang ditetapkan sebagai Rektor Terpilih Unmul periode 2026–2030 setelah mengumpulkan 74 suara atau 53,6 persen dari 138 total suara, mengungguli petahana Prof. Dr. Ir. Abdunnur, M.Si. yang memperoleh 64 suara pada pemilihan tahap akhir di Gedung Rektorat Unmul, Rabu (30/9/2026)

Kemudian besok harinya yaitu Kamis (1/10/2026) situasi di kampus Universitas Mulawarman terasa tegang, terlihat sekelompok orang dengan memakai atribut ormas menyebar di akses masuk menuju Kampus.Mereka menutup akses masuk dengan berbagai cara, mulau dari menaruh objek di jalan masuk hingga menggembok gerbang. Terdengar juga orasi dari salah satu massa, mereka mempertanyakan hasil pemilihan Rektor satu hari sebelumnya yang diduga berisi kecurangan.

Ketua Forum Gerakan Peduli Pendidikan Kaltim yang juga merupakan Ketua LPDAKT-KU (Laskar Pemuda Adat Dayak Kalimantan Timur-Kalimantan Utara) , Vendy Meru menjelaskan bahwa, aksi kali ini merupakan lanjutan dari kegiatan mereka kemarin terkait dengan Pemilihan rektor Universitas Mulawarman.

“Kegiatan kita hari ini adalah lanjutan dari pertemuan kita kemarin. Melihat daripada pemilihan Rektor Unmul yang kita anggap cacat demi hukum. Kenapa saya berani menyampaikan demikian?
Saya langsung saja kepada intinya bahwa ada suara 48 dari kementerian. Dan kalau itu di persentase Reka 35 persen. Lalu suara yang 48% itu, 47 ya, yang dititipkan melalui wamen.” Ucap Vendy Meru, Ketua Forum Gerakan Peduli Pendidikan Kaltim, bersama massa kepada Wartawan di dekat gerbang kampus Unmul Kamis, (1/10/2026)

Ia menjelaskan pihaknya menuntut transparansi dan keterbukaan dari pemilihan rektor sebagai bentuk demokrasi.

Ketua Forum Gerakan Peduli Pendidikan Kaltim, Vendy Meru

“Logika pemilihan suatu organisasi itu, apalagi ini di dunia pendidikan, tentu kita mengharapkan ada demokrasinya, ada keterbukaan, ada transparansi. 47 suara dari kementerian itu, yang tadinya 48, karena Wamen ini hadir, artinya kan ada 47 suara yang dititipkan kepada Wamen.
Untuk mendukung siapa? Untuk mendukung suara daripada Pak Rudianto.” tambahnya

Ia menilai bahwa masuknya suara Kementerian Pendidikan Tinggi kepada Calon Rektor Rudianto mencurigakan, dikarenakan sebelumnya Abdunnur telah Unggul sebelum masuknya suara Kementerian Pendidikan Tinggi.

“Nah Pak Rudianto ini kemarin dalam pemilihan pertama itu kalah dengan Pak Abdunnur Petahana, 65 suara. Pak Abdunnur dari Senat, lalu 24 suara dari Senat itu kepada Pak Rudianto.
Nah, ketika pemilihan kemarin tanggal 30, muncullah dukungan dari pihak kementerian.
48 suara itu, 100% kepada Rudianto.” jelasnya.

Vendy menganggap hal ini tidak logis, ia menganalogikan pemberian 47 suara Kemendikti-Saintek yang hanya diwakilkan oleh Wakil Menteri seperti memberikan suara orang yang sudah meninggal kepada salah satu calon.

“Nah, yang kita pertanyakan kira-kira. Ya kira-kira masuk akal enggak kalau orang itu tidak hadir dalam pemilihan. Yang kita tahu suara yang sesak itu adalah suara yang hadir dalam kegiatan.
Ini kan suaranya dititip. Makanya saya kasih contoh tadi.
Ketika suatu saat ada pilkada atau ada pemilihan presiden, kira-kira begitu. Nanti semua orang yang meninggal itu. Kita akan rekomendasikan untuk mendukung orang yang kita dukung.
Kenapa? Karena mereka ini tidak akan hadir, karena sudah meninggal. Nah, kementerian kemarin ada 47 orang itu tidak hadir, tapi suara mereka itu dititip kepada wamen. Dan itu sah mendukung rival daripada Abdunnur Petahana” tandasnya. (K)

Admin

Silakan Dibagikan

Tinggalkan Balasan