June 27, 2022

kalpostonline.com

Edukatif & Berintegritas

Dana Nasabah Hilang, Belum Yakin Jawaban BNI, BI dan OJK Bakal Didemo

Unjuk rasa di BNI Cabang Samarinda, Senin, 13 Juni 2022.

SAMARINDA, KALPOSTONLINE | Mahasiswa Peduli Lingkungan Kalimantan Timur (AMPL-KT) berunjuk rasa di BNI Cabang Samarinda pada Senin, 13 Juni 2022 lalu. Mereka mendesak permohonan maaf pihak BNI kepada masyarakat Samarinda di media cetak dan elektronik atas masalah yang meresahkan tersebut, serta pernyataan pakta integritas dari pihak manajemen bahwa jaminan dana nasabah yang lain tetap aman dan masalah tersebut tidak terulang kembali.

“AMPLKT menuntut permintaan permohonan maaf pihak BNI kepada masyarakat Samarinda khususnya yang dipublikasikan di media cetak dan elektronik atas masalah yang meresahkan tersebut, serta pernyataan pakta integritas dari pihak manajemen bahwa jaminan dana nasabah yang lain tetap aman dan masalah tersebut tidak terulang kembali.” kata Agus Setiawan ketua AMPLKT.

Tuntutan para aktivis itu belum dipenuhi oleh pihak bank. Karena itu dalam minggu ini aktivis yang tergabung dalam AMPL-KT akan kembali melakukan unjuk rasa atau demonstrasi di Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BPK Perwakilan Kaltim.

“Jawaban BNI belum menyakinkan. Minggu ini kawan-kawan aksi turun ke jalan lagi seperti di BI, OJK dan BPK Perwakilan Kaltim. Kita berharap institusi itu mendalami kasus hilangnya dana nasabah di bank itu dan kita minta BNI di Kaltim ini diaudit, BI harus melakukan audit dan pengawasan yang ketat dan memberikan sanksi ,” katanya.

Persoalan hilanganya dana nasabah ini pernah di klarifikasi pihak BNI saat jumpa pers di Hotel Mercure Samarinda belum lama ini. Kuasa Hukum PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI Cabang Samarinda, Agus Amri, membeberkan soal dana nasabah bank pelat merah itu senilai Rp3,5 miliar yang diduga raib. Saat itu Agus menyatakan, yang terjadi adalah BNI telah mengembalikan dana ke nasabah pemilik tabungan, Muhammad Asan Ali. Besar uang yang dikembalikan sesuai dengan data yang tercatat pada sistem perbankan BNI Samarinda dan sudah melalui proses audit. BNI Cabang Samarinda mengembalikan uang milik pengusaha ikan itu dalam bentuk deposito senilai Rp2.354.640.418, kemudian ditambah Rp303.500.000 dari mantan pegawai BNI yang telah dipecat, yakni Besse Dala Ekaputri. Besse Dalla diduga sebagai aktor penyebab hilangnya dana tabungan Asan Ali. Agus menjelaskan, pengembalian dana itu sudah disepakati antara pihak bank dan nasabah di hadapan notaris.

“Itu (pengembalian dana Asan Ali) sudah dibuat dalam kesepakatan melalui akta notaris (pada 30 Desember 2020). Ada dalam kesepakatan antara pihak bank dan nasabah dengan sejumlah itu,” kata Agus pada Tempo, di Samarinda, Kamis, 31 Maret 2022.

Oleh sebab itu, menurut dia, persoalan antara BNI Samarinda dan Asan Ali sudah rampung. Namun, belakangan Asan Ali melalui kuasa hukumnya menilai BNI belum mengembalikan seluruh uangnya yang hilang. Mengacu pada data rekening koran dari riwayat transaksi Asan Ali, disebutkan masih terdapat kekurangan pengembalian uang dari BNI Samarinda sebesar Rp841.895.582 atau sekitar Rp842 juta.

Menanggapi hal tersebut, Agus mengatakan, audit tabungan sudah dilakukan beberapa kali, termasuk di hadapan OJK wilayah Kaltim, dan Polda Kaltim.

“Kita sudah clear sama pak Asan,” ujar Agus sebagaimana dilansir tempo.co.

Saat itu, kata Agus, BNI sudah bertanya soal instrumen yang akan dipilih sebagai tujuan pengembalian dana dari bank.

“Kita tanya mau diganti apa, mau tabungan atau deposito? Oleh yang bersangkutan dia mau yang aman, tidak mudah diambil, kemudian kita asumsikan deposito,” kata Agus.

Jika saat ini nasabah menuntut sejumlah dana untuk dikembalikan, menurut Agus, justru salah alamat.

“Akan jadi masalah oleh OJK jika pembayaran atau kompensasi di luar hasil audit. Pertanggungjawaban selisih ini nanti akan menjadi repot di hadapan OJK. Jika auditnya 2 M tapi kita ganti 3 M, itu tidak bisa,” kata dia.

Lebih jauh, Agus menduga selisih data yang dimiliki nasabah dengan pihak BNI bisa jadi karena ulah Besse Dalla. BNI menduga dalam praktik-praktik sebelumnya, uang Asan Ali yang dititipkan ke Besse Dalla tidak semuanya ditabung di bank. Dalam hal ini BNI memastikan hanya bisa mengganti uang yang sudah melalui proses audit.

Sebelumnya Asan Ali di hadapan awak media pada Rabu lalu, 30 Maret 2022, menjelaskan dugaan uangnya yang hilang. Ia mengaku dana di rekening yang dibukanya sejak tahun 2004 silam ternyata lenyap, dari semula Rp3,5 miliar dan kini tersisa hanya Rp490 ribu.

“Saya sempat menangis, karena uang tersebut hasil kerja keras saya. Bukan uang haram,” kata Asan.

Ia mengetahui dananya di bank raib setelah mengecek ke ATM pada 28 Oktober 2020 dan di saldo tabungan tersisa Rp490.000. Setelah melaporkan ke OJK dan dilakukan penelusuran, BNI mengembalikan uang Asan dengan cara dicicil selama 6 bulan. Adapun nilai uang yang dikembalikan totalnya sebesar Rp2.354.604.418 atau sekitar Rp2,35 miliar dan ditempatkan di instrumen deposito. Adapun Besse Dalla Eka Putri disebut menyanggupi untuk mengembalikan uang Asan sebesar Rp303.500.000. Namun, karena merasa belum mendapatkan kembali total uang yang hilang di BNI itu, pada tanggal 29 Maret 2022, Asan dan kuasa hukum juga telah melaporkan kasus tersebut ke OJK Wilayah Kalimantan Timur di Samarinda.

“Kami sudah melapor ke OJK. Termasuk akan dikirim ke OJK Pusat dan Kementerian BUMN. Dan menyiapkan gugatan secara perdata,” ucap kuasa hukum Asan, Hilarius Onesimus Moan Jong. (AZ)

Silakan Dibagikan

Tinggalkan Balasan

%d bloggers like this: