kalpostonline.com

Edukatif & Berintegritas

“Sadarlah, Putra-Putri Bumi Etam: Jangan Biarkan Kita Dipecah dan Dikuras”

Oleh Faisal, S.H., M.H. Aktivis-lawyer Kaltim

Bagian 1: Otokritik – Cermin untuk Diri Sendiri

Kita, masyarakat Kalimantan Timur, seringkali dengan mudah melabeli para elit kita sebagai biang kerok. Dari nama (alm) Syaukani HR, hingga Rudi Masud, kita dengar terus-menerus sebagai ikon korupsi. Benar, kita tak perlu menutupi fakta bahwa ada kebusukan di antara anak daerah sendiri. Itu adalah dosa yang harus kita akui dan bersihkan.

Tapi tunggu dulu, saudara-saudaraku. Pernahkah kita bertanya: Mengapa setiap kali ada skandal besar di Kaltim, berita itu seolah dipompa habis-habisan, sementara aliran duit raksasa dari tanah kita terus mengalir tanpa terasa?

Inilah otokritik paling pedas untuk kita: Kita terlalu sibuk menghakimi satu dua orang yang tertangkap, sehingga lupa melihat siapa yang sebenarnya merancang panggung sandiwara ini.

Bagian 2: Kontemplasi – Membongkar Agenda Tersembunyi

Saudaraku, di balik pemberitaan korupsi elit daerah yang bergulir silih berganti, ada sebuah agenda besar yang tak kasat mata. Inilah politik adu domba yang halus: mereka sengaja menghancurkan citra anak daerah di mata kita sendiri. Mengapa? Karena setiap kali kita marah pada satu bupati atau gubernur, perhatian kita teralihkan dari sesuatu yang jauh lebih jahat dan berbahaya.

Perhatikan fakta ini:

Setiap detik, truk-truk batu bara dari KPC, Bayan Resources, dan puluhan perusahaan tambang lainnya keluar dari perut bumi Kaltim. Setiap jam, pipa-pipa migas di tepi pantai kita menyedot kekayaan yang nilainya ratusan triliun rupiah per tahun. Pertamina, kontraktor kontrak kerja sama, semua menikmati. Tapi uang itu ke mana? Jangan salah, bukan ke kampung kita.

Uang itu mengalir deras ke Jakarta setiap hari. Dalam satu hari, mungkin miliaran. Dalam setahun, bisa separuh lebih APBD kita. Itu disamarkan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang katanya untuk pembangunan, namun faktanya banyak proyek bobrok, mangkrak, atau hanya menguntungkan konglomerasi di pusat.

Dan siapa yang jadi kambing hitam? Elit daerah kita sendiri. Mereka dibiarkan jatuh satu per satu, dicap koruptor, sementara penadah kekayaan di Jakarta tersenyum lebar. Bukan membela yang korupsi — sekecil apa pun dosa mereka tetap dosa — tapi kita jangan buta. Tangan-tangan di pusat yang merancang skema ini seribu kali lebih jahat, karena mereka menguras darah Kaltim dengan cara yang “legal” dan “terstruktur”.

Bagian 3: Panggilan Jiwa – Jangan Terkecoh dan Terabaikan

Kita jangan terus menjadi penonton yang terpecah. Ketika sebagian saudara kita sibuk membenci nama Rudy Masud atau Syaukani HR (alm) , di sisi lain pabrik-pabrik asing dan penguasa pusat terus menghitung uang hasil keringat dan tanah kita. Mereka tertawa, karena kita tidak pernah bersatu untuk menuntut hak paling mendasar.

Inilah kebenaran yang harus membakar dadamu:

Rakyat Kaltim tidak harus miskin di atas gunung emas.
Kita tidak harus merelakan anak cucu kita hanya menjadi kuli di tanah sendiri.

Bagian 4: Jalan Baru – Kesadaran Berbuah Tindakan Nyata

Kita punya dua pilihan konkret, bukan sekadar mimpi. Dan ini bukan narasi untuk mengecoh atau menutupi kebusukan elit lokal. Tidak. Ini seruan untuk mengambil kendali atas takdir kita sendiri.

Opsi pertama: Dorong terus Otonomi Khusus. Seperti Papua atau Aceh, kita pantas mendapatkan pengakuan bahwa kekayaan Kaltim adalah untuk kesejahteraan Kaltim. Dengan Otsus, Pemprov bisa mengatur distribusi hasil migas dan tambang secara adil untuk pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur kampung-kampung kita yang masih tertinggal.

Opsi kedua : Tuntut agar negara RI langsung membagi hasil kekayaan alam Kaltim per satu Kepala Keluarga. Hitunglah sendiri:

· Nilai kekayaan yang keluar dari Kaltim per tahun: lebih dari Rp 350 triliun (belum termasuk multiplier effect).
· Penduduk Kaltim: sekitar 3 juta jiwa, atau kurang lebih 1 juta KK.

Jika Rp 350 triliun dibagi rata ke 1 juta KK, setiap keluarga Kaltim berhak menerima Rp 350 juta per tahun — langsung, tanpa perantara, tanpa proyek fiktif.

Itu uang untuk sekolah anak, untuk berobat, untuk buka usaha, untuk hidup layak. Bukan sekadar “dana desa” yang tersendat-sendat. Bukan proyek Menteri yang hilang di jalan.

Bagian 5: Seruan Patriotik – Bangun Kebersamaan, Lawan Adu Domba

Mari renungkan, saudara-saudaraku di Tanah Kaltim. Jangan biarkan diri kita terus dipecah belah dengan cerita korupsi A atau B, lalu lupa bahwa pencuri sesungguhnya adalah sistem yang membiarkan 90% kekayaan kita menguap ke Jakarta.

Kita bisa tetap mengawasi dan mengkritik setiap oknum daerah yang salah — itu kewajiban kita sebagai warga. Tapi jangan pernah berhenti di situ. Tuntutlah hal yang jauh lebih fundamental: Pengakuan bahwa darah dan tanah Etam tidak gratis.

Bangkitlah. Bicarakan ini di warung kopi, di pos ronda, di media sosial. Jangan takut disebut radikal. Yang radikal adalah membiarkan anak-anak kita kelaparan sementara tanah kita digerogoti asing dan pusat.

Kesimpulan (Puisi Pendek untuk Batin Kaltim):

Dulu kita bangga dengan “Bumi Etam”,
Kini kita disamakan dengan korupsi semata.
Padahal di balik layar, mereka mainkan drama,
Agar kita lupa: uang kita mengalir ke pusat tanpa kata.

Maka sadarlah, putra-putri Mahakam,
Jangan hanya pandai menunjuk wajah-wajah yang jatuh.
Tunjuklah panggung dan dalang di belakang tabir,
Tuntutlah hak: bagi langsung, adil, dan penuh takbir.

350 triliun untuk 3 juta jiwa,
Bukan mimpi, itu hak kita yang nyata.
Bersatu, lawan adu domba, lawan kebohongan massal,
Kaltim sejahtera, merdeka secara hakiki dan material.

Mari bergerak, saudaraku. Kini, bukan esok.


Narasi ini tidak bermaksud memaafkan korupsi di daerah, tetapi mengajak kita untuk melihat gerbang pencurian terbesar yang sengaja disembunyikan di balik keributan kecil. Sadar, kontemplasi, dan bertindaklah sebagai patriot Kalimantan Timur.

Admin

Silakan Dibagikan

Tinggalkan Balasan