kalpostonline.com

Edukatif & Berintegritas

EDITORIAL: III (Mobil Dinas Gubernur Kaltim Rp8,5 M)

Mobil Rp8,5 miliar Harga Diri Kaltim atau Gengsi Gubernur?

Pembelian atau pengadaan mobil gubernur Kaltim Rp8,5 miliar dari Alokasi APBD Perubahan Kaltim 2025 menurut Gubernur adalah untuk menjaga warwah Kalimantan Timur, pernyataan gubernur Rudy Mas’ud ini menuai badai kritik dan protes secara meluas diruang publik. Edisi EDITORIAL 3 kali ini, Kalpost mencoba menilik dari persepsi yang relatif berbeda.

Kata MARWAH dalam kasus Buku Bahasa Indonesia Besar Maknanya adalah Kehormatan, harga diri, martabat, gengsi, pangkat.

Pengadaan mobil untuk fasilitas gubernur Rp8,5 miliar apakah Harga diri (marwah) Kalimantan Timur ataukah harga diri gubernur? Ketika gubernur Rudy Mas’ud menegaskan bahwa mobil Rp8,5 untuk menjaga marwah Kaltim. Maka Rp8,5 miliar mestinya dimanfaatkan untuk seluruh warga atau masyarakat Kalimantan Timur dalam beragam bentuk, misalnya infrastruktur dan kesehatan masyarakat. Ironisnya Rp8,5 miliar itu hanya digunakan 1 orang gubernur dalam bentuk sarana mobil dinas elit dengan Spesifikasi Pekerjaan SUV Hybrid 2996 cc 434 HP, Kapasitas Baterai 38.2 kWh, Penggerak Listrik 140 HP, Torsi 620 Nm. Inikah yang disebut marwah Kaltim ataukah gengsi seorang gubernur?

Menurut saya, diksi atau kata dan narasi yang dibangun gubernur dalam memberikan penjelasan terkait dengan mobil Rp8,5 miliar kurang tepat, hingga menimbulkan kegaduhan di ruang publik, diperburuk lagi tidak satu suara antara gubernur dan sekdaprov dalam penggunaan dan pemanfaatan mobil tersebut.

Tolak ukur Marwah atau harga diri suatu daerah bukan tercermin dari fasilitas “WAH” seorang gubernur.

Daerah yang memiliki marwah tinggi adalah yang berhasil menciptakan masyarakat yang cerdas, sehat, sejahtera, dan didukung oleh pemerintah yang bersih dan berintegritas.

Mobil elit dengan spesifikasi pekerjaan SUV hybrid 2996 cc 434 HP, kapasitas baterai 38.2 kWh, penggerak listrik 140 HP, torsi 620 Nm, jika digunakan gubernur untuk terjun ke daerah terpencil dengan arena jalan yang sangat rusak, mungkin relatif bisa dipahami publik, meskipun tetap mendapat banjir kritik. Sayangnya, mobil termahal sepanjang sejarah gubernur Kaltim itu digunakan di Jakarta.

Nasi sudah jadi bubur, Anggaran pembelian mobil Rp8,5 miliar sudah disetujui DPRD Kaltim dan uangnya pun sudah dikucurkan membeli mobil tersebut. Orang bijak mengatakan KRITIK adalah PERINGATAN BUAT YANG LALAI DAN PENGETAHUAN BAGI YANG BERPIKIR. (Fauzi Dewan Redaksi).

Admin

Silakan Dibagikan

Tinggalkan Balasan