June 13, 2021

kalpostonline.com

Edukatif & Berintegritas

Bimtek Pembelajaran Pancasila, Pengajar Dituntut Inovatif

SAMARINDA, KALPOSTONLINE | Dosen maupun guru pengajar Pancasila dituntut mampu melakukan inovasi saat mengajar agar peserta didik baik di sekolah atau perguruan tinggi dapat memahami nilai-nilai Pancasila secara tepat. Seperti pengajaran Pancasila di perguruan tinggi umum dengan perguruan tinggi agama yang dinilai memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, maka dosen harus mampu secara variatif menyampaikannya dengan pelbagai pendekatan.

“Ada kejenuhan di siswa dalam pelajaran Pancasila yang disampaikan secara tidak variatif. Kalau di Perguruan Tinggi Islam tidak ada masalah,” kata DR Bambang Iswanto MH saat menjadi pemateri strategi pembelajaran Pancasila dengan Pendekatan Keislaman dalam Bimtek Pembelajaran Ideologi Pancasila Berbasis Agama yang diadakan Unit Layanan Strategis (ULS) Badan Kajian Pancasila dan Kenegaraan (BKPN) Universitas Mulawarman di Samarinda, Kalimantan Timur, Senin (2/3/2020).

Idonesia dengan kekayaannya sekitar 1.331 suku dengan 652 bahasa daerahnya, seharusnya menjadi negara yang kerap dilanda perpecahan karena sektarian, namun sebaliknya. Menurut Bambang, konflik dan perpecahan malah terjadi di Jazirah Arab yang jumlah sukunya sangat jauh lebih sedikit dibanding Indonesia.

“Di Timur Tengah yang bahasanya Arab ditambah dengan sub-sub bahasanya yang tidak terlalu banyak bisa dilihat sekarang. Secara historis itu (Timur Tengah) tidak memiliki ideologi pemersatu,” jelas Dekan Fakultas Syariah IAIN Sultan Sulaiman.

Lebih lanjut, kata dia, di dalam Islam terutama Perguruan Tinggi Islam banyak pendekatan yang bisa diterapkan dalam mengajarkan Pancasila. Bambang menyitir Quran Surah Al Hujurat Ayat 13 yang berbunyi “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal”.

Bimtek Pembelajaran Ideologi Pancasila

“Harapan saya ke depan, pengajaran di perguruan tinggi bisa menggunakan pendekatan agama yang lebih kontekstual. Sehingga ada titik temu antaragama dan Pancasila sebagai jalan tengah,” imbuhnya.

Kemudian Dr Anna Margareta Tombeng MSi MTh dalam kesempatan itu menyampaikan materi diseminasi dan strategi pembelajaran ideologi dan karakter Pancasila ditinjau dari doktrin Kristen. Dihadapan puluhan peserta bimtek dari lintas ormas, mahasiswa, guru dan dosen dari sejumlah perguruan tinggi itu menegaskan, bahwa lima sila dalam Pancasila telah sejalan dengan iman Kristen.

“Nilai-nilai Pancasila juga tercermin dalam al Kitab. Sila pertama Keluaran 20:3 dalam konteks Perjanjian Lama. Matius 22 ayat 36 sampai 38. Dalam hal ini hukum dibagi dua, kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia,” sebut dosen MPK di Universitar Mulawarman itu.

Lebih jauh menurut iman Kristen, sila-sila lainnya dalam Pancasila dijelaskannya juga senafas dengan al Kitab seperti yang termaktub dalam Imamat 3:28-29, Amsal 3:28-29, Korintus, Matius, Petrus, Ulangan 1:16-17, Matius 23:23.

“Jadi Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran Kristen,” tegasnya memungkasi. (OY)

Silakan Dibagikan

Tinggalkan Balasan

%d bloggers like this: