April 12, 2021

kalpostonline.com

Edukatif & Berintegritas

Dua SMA di Kaltim jadi Sekolah Penggerak, Anwar Sanusi: Gurunya Akan Dilatih di Jakarta

Mendikbud RI Nadiem Makarim saat berada di Balikpapan

SAMARINDA, KALPOSTONLINE | Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meluncurkan program Sekolah Penggerak pada awal Februari 2021. Di Kaltim sendiri, terdapat dua sekolah yang ditetapkan Kemendikbud sebagai Sekolah Penggerak (SP), yakni SMA 1 Samarinda dan SMA 1 Penajam Paser Utara (PPU).

Pada Tahun Ajaran 2021/2022, program itu akan melibatkan 2.500 satuan pendidikan di 34 provinsi dan 110 kabupaten/kota. Kemudian Tahun Ajaran 2022/2023 akan melibatkan 10 ribu satuan pendidikan di 34 provinsi dan 250 kabupaten/kota. Pada  Tahun Ajaran 2023/2024 melibatkan 20 ribu satuan pendidikan di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota selanjutnya sampai 100 persen satuan pendidikan menjadi Sekolah Penggerak.

Program Sekolah Penggerak terdiri atas lima intervensi yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan, yaitu pendampingan konsultatif dan asimetris, penguatan SDM sekolah, pembelajaran dengan paradigma baru, perencanaan berbasis data, dan digitalisasi sekolah.

Anwar Sanusi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Timur ketika dikonfirmasi media ini menjelaskan bahwa program tersebut positif untuk kemajuan sekolah. Pihaknya akan memilih guru yang akan dilatih.

“Dari SMA 1 dan SMA PPU akan ada dipilih untuk menjadi guru penggerak untuk pelatihan di Jakarta. Guru penggerak ini nantinya akan menjadi penggerak untuk semua sekolah di Kaltim,” ujar Anwar Sanusi pada Kalpostonline, Kamis (8/4/21).

Menurutnya guru yang memberikan pembelajaran disekolah itu akan dikurangi karena akan dimanfaatkan untuk menggerakan sekolah lainya.

“Sehingga jam mengajarnya di sekolah dikurangi. Karena tenaganya untuk menggerakan di sekolah -sekolah. Semisal diundang untuk di sekolah lain tugas mengajar ditukar dengan guru yang akan dilatih,” jelasnya lagi.

Anwar Sanusi menegaskan bahwa guru yang menjadi guru penggerak akan diberikan penghasilan tambahan.

“Guru penggerak akan dapat insentif  dari pusat,”katanya mengakhiri.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menegaskan, bahwa sekolah yang dijadikan Sekolah Penggerak bukanlah sekolah unggulan.

“Sekolah yang menjadi Sekolah Penggerak bukanlah sekolah unggulan. Kita tidak akan mengubah input sama sekali, bukan kita memilih sekolah yang sosio ekonominya tinggi. Tapi kita memilih sekolah yang tingkat ekonomi siswanya sangat variatif,” ujar dia dalam peluncuran Merdeka Belajar Episode VII: Program Sekolah Penggerak yang dilakukan secara daring di Jakarta belum lama ini

Dia menambahkan program Sekolah Penggerak bukan mengubah input atau memilih sekolah yang anak-anaknya berprestasi tetapi melakukan transformasi. Program itu juga bukan memberikan sarana-prasarana yang canggih pada sekolah.

“Fokusnya bukan pada sarana fisik, tetapi fokus pada perubahan proses. Bagaimana caranya murid-murid berinteraksi, guru dan guru berinteraksi, guru dengan kepala sekolah berinteraksi, maupun guru dan orang tua,” kata dia. (ADV)

Silakan Dibagikan

Tinggalkan Balasan

%d bloggers like this: