Tue. Mar 9th, 2021

kalpostonline.com

Edukatif & Berintegritas

Mengeruk Duit Dimasa Sulit, Ongkos Tes Covid-19 Sentuh Puluhan Juta Rupiah

JAKARTA, KALPOSTONLINE |  Pemerintah Indonesia telah membatasi tarif maksimal sebesar Rp150 ribu, namun sejumlah pihak berusaha mengeruk untung dimasa pandemi. Semangat meraih laba besar tampak di rumah sakit dan klinik swasta di Indonesia yang memungut biaya untuk pasien hingga mencapai $1.450 atau senilai Rp20,3 juta untuk tes coronavirus. Tarif tersebut bernilai lebih dari tiga kali upah minimum bulanan.

Presiden Joko Widodo pada Senin meminta agar tingkat pengujian Covid-19 dinaikkan hingga 30 ribu tes polymerase chain reaction (PCR) per hari, atau meningkat 50 persen, dan meminta lebih banyak laboratorium dibuka di provinsi-provinsi yang dilanda bencana termasuk Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Di Indonesia, pengujian coronavirus memang gratis di rumah sakit pemerintah tetapi hanya jika pasien menunjukkan gejala. Akses ke pengujian PCR mungkin sulit diperoleh dan hasilnya menunggu hingga beberapa minggu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meminta Indonesia untuk meningkatkan tingkat pengujian PCR.

Kurangnya pengujian yang tersedia secara luas telah tampak pada rumah sakit dan klinik swasta untuk melakukan pelanggaran  layanan, biasanya kepada penduduk yang lebih kaya, kepada orang-orang yang membutuhkan tes untuk dapat izin terbang, misalnya, atau karena mereka menginginkan tes meski tanpa gejala.

Seperti dilansir Sydney Morning Herald and The Age yang menurunkan liputannya terkait itu dengan mengkonfirmasi 14 rumah sakit dan klinik swasta di Jakarta dan Bali, Selasa (14/7/2020).

Rumah sakit swasta di Jakarta termasuk Rumah Sakit Columbia Asia, Gading Pluit, rumah sakit Pertamina, RSCM Kencana dan Rumah Sakit MRCCC Siloam memungut biaya antara $180 atau setara Rp2,5 juta dan $250 atau senilai Rp3,5 jita untuk tes PCR.

Upah minimum di Jakarta adalah sekitar $ 400 atau Rp4,2 juta per bulan yang berarti bahwa seorang pekerja mungkin harus menghabiskan setengah dari upah bulanan mereka, atau lebih, untuk mendapatkan tes jika mereka tanpa gejala.

Harga-harga tes lebih mahal jika pasien menginginkan hasilnya lebih cepat: Rumah Sakit MRCCC Siloam, di Jakarta Selatan, mengenakan biaya $650 atau senilai Rp9,1 juta untuk hasil dalam 24 jam, daripada dua hingga tiga hari, dan baiaya hingga $1450 atau setara Rp20,3 juta yang hasilnya dapat diketahui dalam 12 jam.

Demikian pula, Siloam Kebon Jeruk di Jakarta Barat mengenakan biaya $450 untuk hasil dalam 24 jam, bukan tiga hari, sedangkan rumah sakit swasta RSCM Kencana dikenakan biaya hingga $550 atau sekitar Rp7,7 juta untuk dua tes PCR, tes darah dan rontgen thorax.

Di Bali, Rumah Sakit Unud mengenakan tarif $100 atau Rp1,4 juta untuk tes PCR dan rumah sakit swasta Siloam dikenakan biaya $250 atau Rp3,5 juta.

Tes cepat atau rapid test yang disebut kurang akurat, yang mendeteksi antibodi untuk COVID-19, biayanya lebih terjangkau dan berkisar dari $15 Rp210 ribu hingga $60 atau senilai Rp840 ribu.

Ahli epidemiologi Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan pemerintah harus turun tangan dan mengatur harga. Dia mempertanyakan kapasitas pengujian di sektor swasta sementara pemerintah berjuang untuk menyediakan lebih banyak tes tersedia.

Dia mengatakan itu “sangat tidak etis” bagi penyedia layanan kesehatan dalam mencari untung dari pengujian pandemi dan “memanipulasi ketakutan masyarakat”.

“Pemerintah harus membuka mata untuk mengatur ini. Ini adalah sumber daya nasional, ketika Anda memiliki kapasitas rendah dalam pengujian, Anda perlu meminta (rumah sakit) publik dan swasta untuk membantu meningkatkan kapasitas pengujian (negara).”

“Mengapa kita membiarkan seseorang yang memiliki sumber daya pengujian melakukan hal berbeda terhadap kebijakan nasional?”

Andreas Harsono dari Human Rights Watch Indonesia mengatakan bahwa “tentu saja sekarang ada kelebihan kapasitas pengujian”.

“Masalah mendasar di sini adalah akses ke layanan kesehatan, hak atas layanan kesehatan. Pemerintah harus dapat melindungi hak-hak itu, tetapi dalam pandemi skala ini jawabannya tidak semudah itu. Jelas banyak negara tidak dapat mengatasi pandemi ini.”

Indonesia melaporkan 1282 kasus baru pada Senin (13/7/2020) sehingga jumlahnya menjadi 76.981. Tingkat infeksi secara teratur berkisar sekitar 1.600 per hari dan naik mencapai 2.657 Kamis lalu, sementara angka kematian 3656 adalah yang tertinggi di Asia Tenggara.

Di Australia, seseorang tidak dikenai biaya untuk uji virus corona sementara di Amerika Serikat, laboratorium diagnostik utama mengenakan biaya sekitar $140 atau senilai Rp14,6 juta, menurut The New York Times, meskipun sebuah laboratorium di Texas membebankan biaya sebanyak $3300 atau sebesar Rp46,2 juta.

Tingkat pengujian di Indonesia sekitar 3700 per juta orang, jauh di bawah negara-negara tetangganya termasuk Malaysia (25.000), Thailand (8600), Singapura (148.000) dan Australia (114.000).

Jakarta sebagi ibu kota negara telah meningkatkan pengujian PCR menjadi sekitar 21 ribu per juta orang, tetapi setidaknya delapan provinsi di negara ini menguji kurang dari seribu orang per juta.

Sumber: Sydney Morning Herald

Silakan Dibagikan

Tinggalkan Balasan

%d bloggers like this: